Selasa, 02 Januari 2018

APA ITU RUQYAH SYAR'IYYAH..?


Image result for ruqyah 


Anda Bingung dalam mengambil jalan IKHTIAR terhadap Penyakit 
atau Permasalahan Kehidupan yang sedang mendera?



Anda Ingin  Permasalahan Tersebut Terselesaikan Tanpa Kesyirikan?



Insya Allah,  Kami Siap Membantu Anda

“Ruqyah Syar’iyyah Solusinya”



Ruqyah Syar’iyyah adalah Sebuah Pengobatan Islami Warisan Kenabian dan merupakan Solusi  Tepat dalam Mengambil Jalan Ikhtiar Terhadap Penyakit atau Permasalahan yang diderita,  Baik Medis maupun Non Medis yang disebabkan oleh :

Gangguan  Jin,   Sihir,   Santet,   Pelet.


Sudah Banyak Orang yang Telah Merasakan Manfaat dan Tercerahkan Keimanannya.
Jangan Biarkan Diri dan Keluarga Kita Terjerumus Kedalam Kesyirikan yang Menyesatkan.
  



RUQYAH secara bahasa adalah berarti Mantra atau Bacaan.
Secara istilah RUQYAH adalah segala ungkapan yang digunakan sebagai mantera untuk kesembuhan, perlindungan/penjagaan, pengutan, kelancaran, kemudahan dan sebagainya.
    
RUQYAH SYAR'IYYAH 
 merupakan suatu ilmu Pengobatan Rasulullah yang menggunakan
Al Qur’an & Do’a-do’a Shohih
yang dibacakan dengan penuh KEIMANAN & KEYAKINAN yang KUAT
bahwa dengan izin Allah akan memberi dampak kebaikan kepada orang yang sakit.
Dalil Al Qur'an:
وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا خسارا
"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian". (QS. AL ISRAA' : 82)

....قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء...
".... Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan obat (penawar) bagi orang-orang yang beriman." (QS. FUSHSHILAT : 44)

Dari Ali bin Abi Thalibia berkataRasulullah SAW. bersabda 
Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).

Dengan Ruqyah berarti kita mengfungsikan Al Qur'an sebagai penawar bagi permasalahan kehidupan kita baik PENYAKIT FISIK maupunPENYAKIT NON FISIK.


RASULULLAH JUGA MERUQYAH

Beliau bersabda, “Ibnu Abil ‘Ash?’ Aku menyahut, ‘Ya, wahai Rasulullah!’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang ke mari?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku, sehingga aku tidak tahu bacaan shalatku’. Rasulullah bersabda, ‘Itulah syetan, mendekatlah ke mari’. Maka aku pun mendekat kepadanya, dan aku duduk di atas kedua telapak kakiku. Beliau memukul dadaku dengan tangannya, dan meludahi mulutku seraya berkata, ‘Keluar! hai musuh Allah!’ Beliau mengulanginya tiga kali. (HR. Ibnu Majah, no. 3538).

RASULULLAH MERUQYAH DIRINYA SENDIRI
Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, beliau membaca al-Mu’awwidzatain (surat-surat perlindungan) lalu meniupkannya pada dirinya. Ketika sakit beliau makin gawat, maka akulah yang membaca untuknya, lalu kuusap beliau dengan tangannya sendiri untuk mengharap berkahnya.” (HR. Bukhari, no. 4629).

RASULULLAH MERUQYAH KELUARGANYA
Aisyah ra berkata: Apabila ada seseorang yang sakit dari keluarga Rasulullah, beliau meniupnya dengan membaca surat-surat perlindunganDan ketika beliau yang sakit pada tahun kematiannya, akulah yang membacanya lalu aku tiupkan ke tangannya, kemudian kuusapkan tangan itu ke tubuhnya, karena tangan beliau lebih banyak berkahnya daripada tanganku. (HR. Bukhari dan Muslim).


RASULULLAH MERUQYAH SAHABAT

Abu Hurairah berkata, Rasulullah pernah datang menjengukku (saat sakit). Beliau bersabda: Maukah kamu aku ruqyah dengan ruqyah yang telah diajarkan malaikat Jibril kepadaku? Aku menjawab: Demi ayah dan ibuku, aku mau wahai Rasulullah. Lalu beliau membaca: Dengan nama Allah aku meruqyahmu, Allah-lah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit yang ada padamu, dari kejahatan tukang kejahatan tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki apabila ia telah dengki. (3x). (HR. Ibnu Majah).


SAHABAT MERUQYAH TEMANNYA

Abdul Aziz berkata, “Saya dan Tsabit pernah masuk ke rumah Anas bin Malik (salah seorang shahabat Rasulullah). Tsabit berkata, ‘Wahai Abu Hamzah (Anas), saya merasa sakit.’ Anas berkata, ‘Maukah kamu aku ruqyah dengan ruqyah Rasulullah?’ Tsabit berkata, ‘Ya, saya mau’. Anas membaca, ‘Ya Allah, Tuhan manusia, Penghilang (rasa) sakit. Sembuhkanlah (sakitnya), Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.” (HR. Bukhari).
  

Apa kata Ulama'...?

Ibnu Taimiyyah berkata: "Adapun pengobatan orang yang kesurupan dengan ruqyah, maka bacaan yang dibaca itu ada dua macam. Apabila bacaan ruqyah tersebut terdiri dari kalimat yang bisa dipahami maknanya dan dibolehkan oleh agama Islam, maka bacaan seperti itu dibolehkan. Karena telah ditegaskan bahwa Rasulullah mengizinkan penggunaan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan. (Lihat HR. Muslim no. 2200, red.). 

Tapi bila di dalamnya mengandung kalimat yang diharamkan, seperti ada kesyirikan atau maknanya tidak bisa dipahami atau mengandung kekufuran, maka tidak seorang pun diperkenankan untuk memakainya. Walaupun terkadang dengan kalimat tersebut jin mau keluar dari tubuh orang yang kesurupan. Karena bahaya kekufuran lebih besar adanya daripada manfaat kesembuhan yang diperoleh." (Majmu'ul Fatawa: 23/ 277).

Imam Nawawi juga telah berkata: "Ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur'an dan dengan do'a-do'a yang telah diajarkan Rasulullah adalah suatu hal yang tidak terlarang. Bahkan itu adalah perbuatan yang disunnahkan. Telah dikabarkan para ulama' bahwa mereka telah bersepakat (ijma') bahwa ruqyah dibolehkan apabila bacaannya terdiri dari ayat-ayat al-Qur'an atau do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah." (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/ 341).



JIKA ANDA MEMBUTUHKAN TERAPI RUQYAH SYAR'IYYAH
SILAHKAN HUBUNGI KAMI



RUMAH TERAPI QURAN MADANI
PERUMAHAN PURI PERMATA BLOK C2/11
Jl. Maulana Hasanudin Cipondoh Makmur Tangerang

HP. 0813-16900075
EMAIL : rtqmadani@gmail.com

Senin, 01 Januari 2018

MEMAHAMI KEHIDUPAN SEBAGAI UJIAN

HIDUP SEBAGAI UJIAN



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
1. Hidup ini bekerja sesuai dengan rumusnya. Dan rumus hidup itu dirancang dan ditetapkan oleh Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan, ALLaah swt.

2. Beberapa penjelasan Allah swt tentang kehidupan (di dunia) ini sangat penting kita ketahui dan kita pahami agar kita tidak salah anggapan lalu salah pula dalam mengambil keputusan yang akhirnya salah pula tindakan kita.


Selanjutnya kesalahan kita dalam tindakan kita itu akan berakibat kekacauan, ketidakstabilan, berakibat bencana. Salah memasukkan inputnya apalagi rumusnya, maka hasilnya akan berbeda, tidak sesuai dengan yang kita harapkan.


3. Diantara penjelasan ALLaah swt tentang hakikat kehidupan ini adalah Hidup Sebagai Ujian.

ALLaah swt berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
(ALLaah swt) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [Qs. Al-Mulk (67): 2]

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya,
[Qs. Hud (11): 7]

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [Qs. Al-Kahfi (18): 7]


Mereka yang diuji adalah mereka yang terdaftar sebagai peserta ujian, yaitu mereka yang mendaftarkan dirinya untuk suatu yang mereka belum lihat sendiri dengan mata mereka, belum mendengarnya dari sumbernya langsung.

Mereka "hanya" menyatakan mengaku percaya kepada suatu semua itu karena adanya harapan memperoleh kehidupan nyaman yang diinginkannya.

Ibaratnya, ujian itu adanya di suatu lembaga (sekolah misalnya) maka hanya yang mendaftarkan sebagai murid sajalah yang mendapatkan ujian di sekolah itu.

Para murid (melalui orang tuanya, dan seterusnya) percaya betul bahwa dengan sekolah itu harapan-harapannya akan bisa diwujudkan. Mereka berharap mendapatkan pengakuan demi pengakuan secara resmi kenaikan jenjang nilai dirinya dari sekolah tersebut untuk akhirnya mendapatkan pengakuan secara luas mengenai kualitas, kapasitas bahkan integritas dirinya.

Harapannya, dengan pengakuan-pengakuan resmi semua itu, dia lebih mudah mendapatkan apa yang diharapkannya.

Adapun bagi yang tidak mendaftar, maka mereka itu tidak perlu diuji. Bagi mereka yang tidak mendaftar hanya perlu diyakinkan bahwa sekolah itu memang betul-betul bisa mewujudkan apa yang mereka harapkan.




Ujian itu hanya bagi yang mengaku beriman

[Qs. Al-'Ankabut (29): 2-3]

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.


Hidup ini seluruh apa yang terwujud dan terjadi itu adalah semata Ujian.

Menguji, siapa yang paling baik (prestasi) amalnya. Menguji secara pembuktian kebenaran "klaim" imannya. Kebenaran dari pernyataannya lisannya apakah cocok dengan yang ada di hatinya. Dan kecocokkan itu dibuktikan dengan amal perbuatan. Baik amal badan maupun sumberdaya lainnya (harta, waktu, kesehatan, ilmu, kelapangan, kenyamanan, dan sebagainya).

Itulah SHIDQ
Dan makna shodaqoh secara luas terkait dengan pembuktian dan kecocokkan pernyataan iman. Hingga senyum-pun disebut sebagai shodaqoh. Senyum yang shidq tentunya. Karena ada pula senyum yang kadzib (dusta).




Sikap terhadap ujian => Semua yang dari ALLaah swt adalah BAIK semata.

Qs. At-Taubah (9): 70; Qs. Al-Ankabut (29): 40; Qs. Ar-Rum (30): 9;

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“…dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri"


Qs. Ali Imron (3): 182; Qs. Al-Anfal (8): 51; Qs. Al-Hajj (22): 10; Qs. Fushshilat (41): 46; Qs. Qaaf (50): 29;

وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.


Kesimpulannya,

كُلُّ مَا قَدَّرُ اللهُ خَيْر

"Kullu maa qoddaruLLaahu khoir.."
Setiap ketentuan ALLaah swt adalah kebaikan semata.


Adapun ketika sampai kepada manusia, jadilah segala peristiwa itu sebagai hal yang menyenangkan dan menyusahkan sebagai hal yang dinamakan kebaikan dan keburukan. Al-Khoir dan Asy-Syar atau Al-Hasanah dan Assayyi-ah.


مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri  [Qs. An-Nisa; (4): 79].


وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). [Qs. Al-A'rof (7): 168].


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Qs. Al-Anbiya (21): 35].

MEMAHAMI THIBBUN NABAWI

PONDASI DASAR MEMAHAMI THIBBUN NABAWI

Untuk dapat mengerti tentang Thibbun Nabawi atau pengobatan cara Nabi, maka kita harus memahami tentang pondasi dasar Thibbun Nabawi. 

Thibbun Nabawi  bersumber wahyu (Al-Quran dan Hadits). Thibbun Nabawi berprinsip pada penegakkan Tawazun dan Tazkiyyah.

Tawazun pada sistem hidup (termasuk sistem dalam diri manusia) dan Tazkiyyah pada sumber daya (manusia, ekonomi dan alam). Sehingga
menjalankan Thibbun Nabawi itu sesungguhnya adalah upaya menegakkan (mendakwahi) Islam.


Diantara 5 atau 6 maqoshidusy syar'iyyah (maksud tujuan syariat) :
1. Hifzhud diin (menjaga/memelihara agama)
2. Hifzhun nafsi (nyawa dan diri)
3. Hifzhul 'aqli (akal)
4. Hifzhun nasali (keturunan)
5. Hifzhul maali (harta)
6. Hifzhul 'irdhi (kehormatan harga diri).

Tujuan penegakkan kesehatan dalam Islam terkait dengan no 2, 3 dan 4 dalam maqooshidusy syar'iyyah.
Artinya setengah dari tujuan syariat diupayakan diperjuangkan dalam Thibbun Nabawi,           Tujuan ke 6 Kehormatan (harga diri) Umat baik secara individu maupun kelompok hanya bisa tegak bila kelima tujuan di atasnya juga tegak.

Kemuliaan (Izzah) inilah yang harus diwujudkan kembali..


وَلِلَّهِ العِزَّةُ وَلِرَسولِهِ وَلِلمُؤمِنينَ وَلٰكِنَّ المُنافِقينَ لا يَعلَمونَ
Dan hanya bagi Allah-lah kemuliaan (izzah) itu serta bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS Al-Munafiqun 8)


يا أَيُّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقناكُم مِن ذَكَرٍ وَأُنثىٰ وَجَعَلناكُم شُعوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفوا ۚ إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقاكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat 13)
___


Izzah (wibawa) dan karomah (kemuliaan) itu bisa hilang dan berganti dengan kehinaan dan posisi rendah.
Sehingga harus mengenali faktor yang bisa menyebabkan hina dan rendah itu, baik faktor yang ada di dalam internal dirinya maupun yang ada di luar dirinya.

Di dalam dirinya ada jiwa fujur dan di luar dirinya ada makhluk jahat. Dan semua faktor itu juga Allah swt ciptakan untuk kita semua.
Tujuannya agar kita selalu
waspada, menjaga diri serta melakukan perlindungan yang memadai dari dua faktor tersebut.


Itulah dua perlindungan yang sering dibaca Nabi SAW.
Surat Al-Falaq (perlindungan dari faktor eksternal), dan
An-Naas (perlindungan dari faktor internal).

Jika kita tidak menegakkan Tawazun dan melaksanakan Tazkiyyah maka kedua faktor itu akan leluasa menguasai kehidupan kita. Jika sudah demikian maka kehidupan kita pasti akan rusak.

Dan pihak yang paling menghendaki rusaknya kehidupan manusia adalah SYAITAN.

إِنَّ الشَّيطانَ لَكُم عَدُوٌّ فَاتَّخِذوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّما يَدعو حِزبَهُ لِيَكونوا مِن أَصحابِ السَّعيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Al-Fathir 6)

Dan hakikat sakit atau kerusakan lainnya itu krn ada yang keliru dalam diri kita (tidak tawazun dan kurang tazkiyyah).

ظَهَرَ الفَسادُ فِي البَرِّ وَالبَحرِ بِما كَسَبَت أَيدِي النّاسِ لِيُذيقَهُم بَعضَ الَّذي عَمِلوا لَعَلَّهُم يَرجِعونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum 41)

Mengembalikan keseimbangan dan melakukan pembersihan diri itu dengan sesuatu yang Thoyyib yang Allah SWT turunkan dari langit dan Allah SWT tumbuhkan (bangkitkan) dari bumi.

* semua air itu asalnya dari langit.
AL-QURAN AL-HADITS TENTANG AIR DAN MAKANAN (THOYYIB).


الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ فِراشًا وَالسَّماءَ بِناءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّماءِ ماءً فَأَخرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَراتِ رِزقًا لَكُم ۖ فَلا تَجعَلوا لِلَّهِ أَندادًا وَأَنتُم تَعلَمونَ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqoroh : 22)

وَلَقَد كَرَّمنا بَني آدَمَ وَحَمَلناهُم فِي البَرِّ وَالبَحرِ وَرَزَقناهُم مِنَ الطَّيِّباتِ وَفَضَّلناهُم عَلىٰ كَثيرٍ مِمَّن خَلَقنا تَفضيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al ISra’ : 70)

يا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلوا مِنَ الطَّيِّباتِ وَاعمَلوا صالِحًا ۖ إِنّي بِما تَعمَلونَ عَليمٌ
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mu’minun : 51)

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كُلوا مِن طَيِّباتِ ما رَزَقناكُم وَاشكُروا لِلَّهِ إِن كُنتُم إِيّاهُ تَعبُدونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
(Al Baqoroh : 172)



Kembali kepada keterkaitan THIBBUN NABAWI dengan Maqoshidusy syar'iyyah (MS),
Bahwa THIBBUN NABAWI itu sendiri tidak akan bisa dijalankan dengan benar dan kuat jika tidak terjaganya ad-dien (MS no.1) baik Kebersihan Aqidah, Kesahihan Ibadah dan Kokohnya Akhlaq yang baik dalam muamalah kehidupan.
 
Dan juga tidak terjaganya Harta (ekonomi) yang sesuai syariat (MS no.5).
Harta yang bersumber dari riba dan kemaksiatan lainnya adalah khobits (kotor). Dan itu artinya apapun yang dikonsumsi yang menjadi darah-daging dalam diri manusia menjadi tempat yang nyaman bagi syaitan..

"Kesurupan" masal itu bisa terjadi tatkala manusia secara ekonomi bersumber dari pekerjaan dan sistem syaitani.


ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻻَ ﻳَﻘُﻮﻣُﻮﻥَ ﺇِﻻَّ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺘَﺨَﺒَّﻂُﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻂَﺎﻥُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺲِّ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊُ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ۗ ﻭَﺃَﺣَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ۚ ﻓَﻤَﻦْ ﺟَﺎءَﻩُ ﻣَﻮْﻋِﻆَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻪِ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬَﻰٰ ﻓَﻠَﻪُ ﻣَﺎ ﺳَﻠَﻒَ ﻭَﺃَﻣْﺮُﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۖ ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺎﺩَ ﻓَﺄُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ۖ ﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaithan. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqoroh : 275)


يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.
Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui
. (Al Baqoroh :168-169)


Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.”
(HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Diantara diagnosis terpenting terhadap penyakit dan terapinya adalah: apa dan dari mana sumber harta/makanannya.

Menyisihkan segala hal yang khobits (buruk, tidak thoyyib) sehingga yang tinggal hanyalah yang thoyyib semata, itu adalah melaksanakan kehendak Allah swt.


ما كانَ اللَّهُ لِيَذَرَ المُؤمِنينَ عَلىٰ ما أَنتُم عَلَيهِ حَتّىٰ يَميزَ الخَبيثَ مِنَ الطَّيِّبِ  
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang khobits dari yang thoyyib. ( Ali Imron : 179)


Jangan terbawa arus khobits.

قُل لا يَستَوِي الخَبيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَو أَعجَبَكَ كَثرَةُ الخَبيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يا أُولِي الأَلبابِ لَعَلَّكُم تُفلِحونَ
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan". ( Al Maidah : 100)


Keberkahan THIBBUN NABAWI hanya didapat jika dipraktekkan dengan haq baik barang maupun caranya, tidak tercampur dengan sesuatu yang bathil. Yang berasal dari wahyu Allah swt tidak mungkin dicampur dengan sesuatu yang dari syaithan.


وَلا تَلبِسُوا الحَقَّ بِالباطِلِ وَتَكتُمُوا الحَقَّ وَأَنتُم تَعلَمونَ
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Al Baqoroh : 42)


ذٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ ما يَدعونَ مِن دونِهِ هُوَ الباطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبيرُ
(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Hajj : 62, Luqman : 30)




Kalimat syaitan dengan segala perangkat khobitsnya akan terus bekerja menggagalkan peran tegaknya kalimat Allah swt dengan segala perangkat thoyyibnya. Jika tidak dapat sepenuhnya digagalkan maka mereka akan berupaya merusak dengan mencampuri yang thoyyib itu dengan sesuatu yang khobits.

Sementara kalimat Allah swt dan risalah RasulNya akan tetap disempurnakanNya sekalipun syaitan dan semua pendukungnya tidak menyukai. Dan sebagai salah satu perangkat Risalah Rosul, Ath-thibbun Nabawi.

يُريدونَ أَن يُطفِئوا نورَ اللَّهِ بِأَفواهِهِم وَيَأبَى اللَّهُ إِلّا أَن يُتِمَّ نورَهُ وَلَو كَرِهَ الكافِرونَ
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. (At Taubah : 32)


هُوَ الَّذي أَرسَلَ رَسولَهُ بِالهُدىٰ وَدينِ الحَقِّ لِيُظهِرَهُ عَلَى الدّينِ كُلِّهِ وَلَو كَرِهَ المُشرِكونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (At Taubah : 33)


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Al Fath : 28)



Karena itu,

ATH-THIBBUN NABAWI hanya bisa memberi manfaat besar jika dilakukan dengan Shidq (benar-jujur) serta Jihad (sungguh2 diperjuangkan).



_RR

  PROGRAM OPTIMALISASI RAMADHAN Untuk yang peduli dengan masa depan (Akhirat) keluarganya ✨✨✨✨✨✨✨✨ Sebuah workshop aplikatif yang akan menga...